Pendidikan yang menjadi cita-cita Ki Hadjar Dewantara adalah membentuk anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin. Konsep pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara ini sesuai dengan konsep pendidikan humanistik yang menampilkan kekhasan kultural Indonesia, dan menekankan pentingnya pengolahan potensi peserta didik secara terintegratif. Pada titik itu, konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara sungguh kontekstual untuk kebutuhan generasi Indonesia pada masa itu. Kini gagasan dan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yang begitu berharga dan humanis pada masa dulu, menjadi terasa begitu klasik dan nyaris di lupakan. Itu karena pendidikan Indonesia pada masa kini lebih di dominasi kognitif dan jauh dari nuansa terintegratif sehingga reduktif terhadap hakekat pendidikan dan kemanusiaan. Adanya kurikulum 2013 kini di Indonesia lebih menekankan pendidikan humanistik yang mengarahkan kepada perbaikan sikap, tetapi realitasnya pendidikan terlalu terfokus pada upaya untuk menyiasati ujian sekolah ataupun Ujian Nasional (UN), dan bukan untuk membentuk manusia yang otentik, berkepribadian dan peka terhadap dunia di luar sekolah. Padahal, pendidikan dalam konteks yang sesungguhnya, sebagaimana diyakini juga oleh Ki Hadjar Dewantara, adalah menyangkut upaya memahami danĀ  menganyomi kebutuhan peserta didik sebagai subyek pendidikan. Dalam konteks itu, tugas pendidik adalah mengembangkan potensi peserta didik, menawarkan pengetahuan kepada peserta didik dalam suatu dialog kemanusiaan, moral, dan pengetahuan akademik